Guru Besar IAIN Sorong: Otsus Keistimewaan Papua yang Tak Dimiliki Provinsi Lain

Jakarta,tv45.co.id – Guru Besar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong, Papua Barat, Prof. Dr. Ismail Wakke, Ph.D, menilai otonomi khusus (otsus) merupakan keistimewaan yang diberikan pemerintah pusat terhadap Provinsi Papua dan Papua Barat.

Karena itu, ia berharap perlakuan spesial itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh penerima.

“Alokasi dana otsus yang merupakan satu prakarsa khusus untuk Papua, ini keistimewaan yang tidak dimiliki provinsi lainnya. Tentu kita harus mendayagunakan semaksimal mungkin,” ujar Ismail dalam diskusi virtual ‘Otsus dan Masa Depan Papua’, yang digelar Suara Dewan, Minggu (29/11/2020).

Menurutnya masyarakat Papua takkan bisa maju tanpa bantuan seluruh anak bangsa, juga oleh orang Papua itu sendiri. Artinya, diperlukan persatuan dan kesatuan seluruh anak negeri, guna memajukan Tanah Papua.

“Papua tidak akan pernah maju, kalau tidak berada di tangan anak-anak Papua dan anak anak nusantara yang ada di Papua. Tidak ada bangsa manapun yang maju tanpa bersatu. Apa yang jadi kunci, kita bisa dapatkan di Papua,” tutur Ismail.

Ia yakin, berbekal dana otsus peningkatan kualitas manusia Papua bisa dilakukan. Sehingga, akhirnya pemerataan sumber daya manusia (SDM) yang berujung pada peningkatan kesejahteraan, bisa terjadi.

Apalagi, menurut Ismail akses dan pemerataan pendidikan di Papua maupun Papua Barat sudah dilakukan pemerintah pusat dan daerah.

Hal ini dibuktikan dengan adanya salah satu lulusan terbaik anak Indonesia di Amerika Serikat merupakan orang Papua.

“Kalau kita support dengan Otsus dan suara kita semua, 5-10 orang Papua akan sama bagusnya dengan daerah-daerah lain di Indonesia,” kata dia.

Lebih lanjut ia berharap, agar Papua tak hanya dijadikan kawasan pariwisata, yang di sisi lain tak ada keuntungan yang didapatkan masyarakatnya.

Ismail ingin, setiap pengembangan di Papua maupun Papua Barat, berdampak terhadap meningkatnya kesejahteraan masyarakat setempat.

“Perguruan tinggi dibangun satu persatu di Papua, dan studi kedokteran merupakan alokasi dari dana otsus. Sementara akan dibangun juga politeknik pariwisata oleh Kementerian Pariwisata. Lalu ada sekolah berasrama yang akan diberikan kepada anak Papua yang ada di pesisir atau tempat lainnya,” jelasnya.

“Jangan sampai Papua tereksplorasi jadi tempat tujuan wisata, tapi tidak ada yang didapatkan oleh masyarakat. Setiap kota/kabupaten perlu RS rujukan, sekaligus alokasi dana kesehatan mencukupi,” imbuh Ismail.